Skip to main content

keistimewaan mata boruto, jougan

Semenjak awal kemunculannya di serial Boruto, mata Boruto ini menjadi misteri yang sangat menarik untuk dibahas. Banyak fans yang bertanya-tanya, apakah mata ini Byakugan? Ataukah Tenseigan? Ataukah sesuatu yang benar-benar baru? Nah, setelah Boruto episode 15 kemarin, terungkap sudah bahwa nama mata Boruto adalah Jougan!

Hasil gambar untuk jougan boruto


mungkin masih banyak yang bertanya-tanya  seperti apakah Jougan ini? 
Dan apa pula kemampuan yang dia miliki? 

Berikut ini adalah beberapa informasi tentang mata Boruto yang kita ketahui sejauh ini:
Bukan Byakugan ataupun Tenseigan
Jadi, seperti apakah mata Boruto ini? Sebelumnya, kita pernah 
berteori bahwa mata ini adalah Byakugan yang tengah berkembang menjadi Tenseigan. Dan kini, telah terbukti bahwa teori tersebut salah. Salah satu animator dalam anime Boruto memposting sebuah gambar di blog miliknya yang memperlihatkan Boruto membersihkan mata kanannya. Dia memberian caption “Jougan” yang berarti “Pure Eye” atau “Mata Suci” dan menjelaskan bahwa mata ini bukanlah Byakugan ataupun Tenseigan.
Masih Berhubungan dengan klan Otsutsuki
Animator Boruto juga menjelaskan Jougan masih memiliki hubungan dengan klan Otsutsuki. Tentu saja, ini semua berkat silsilah keluarga Boruto yang masih berhubungan darah dengan klan Otsutsuki (dari pihak Ibu Boruto, Hinata). Selain itu, hal ini juga menjelaskan kenapa Toneri Otsutsuki sering muncul sekilas (kalau saya tidak salah ingat, di awal episode 8 dan akhir episode 14 anime Boruto) dan memberikan Boruto arahan seakan-akan dia sudah banyak tahu tentang mata misterius yang satu ini.
Kombinasi antara Byakugan dan kemampuan Sensor Naruto
Animator Boruto, mengatakan bahwa Jougan ini merupakan kombinasi antara kemampuan yang dimiliki oleh Byakugan dan juga kemampuan sensor Naruto untuk merasakan emosi negatif. Hal ini menjelaskan kenapa Jougan bisa melihat aliran chakra layaknya Byakugan dan juga  merasakan emosi negative seperti yang dipancarkan oleh Nue layaknya kemampuan sensor Naruto ketika Naruto menggunakan Nine-Tails Chakra Mode.
Untuk yang terakhir, rasanya hal tersebut seperti mengkonfirmasikan bahwa chakra Kyuubi juga menurun pada Boruto. Seperti yang kita tahu, kemampuan melacak emosi negatif ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang menggunakan chakra Kyuubi. Lalu, tercampur dengan darah keturunan Hyuuga, Boruto pun jadi bisa memiliki Jougan.
Selain kemampuan yang disebutkan di atas, Jougan juga memiliki kemampuan untuk melihat batas antar dimensi—seperti yang ditunjukkan pada anime Boruto episode 14.
Itulah tadi segala hal yang kita ketahui tentang Jougan sejauh ini. Kemampuan yang dimiliki bisa dibilang cukup menarik, dan tampaknya masih banyak kemampuan lain yang belum diperlihatkan. Boruto juga belum bisa menggunakan teknik mata miliknya itu. Hal unik lainnya adalah, apakah Himawari juga memiliki mata yang sama? Belum dikonfirmasikan, jadi kita tidak bisa bilang dia memiliki mata yang sama—karena sejauh ini Himawari hanya diperlihatkan memiliki Byakugan. Meskipun begitu, kemungkinannya masih ada.
Selain informasi mengenai Jougan, animator Boruto juga mengatakan pada posting yang sama bahwa informasi lebih lanjut mengenai Jougan akan disediakan pada episode-episode berikutnya. Entah kapan episode yang membahas atau memperlihatkan mata Boruto ini akan dirilis, karena sebelum sampai situ, kita akan disuguhi dulu cerita Naruto Gaiden yang berfokus pada Sarada di episode 19 dan selanjutnya. Yah, kita tunggu saja informasi selanjutnya.


Comments

Popular posts from this blog

TINGKATAN THEORY KEPERAWATAN, (META-THEORY, GRAND-THEORY, MIDDLE RANGE TEORY, MICRO THEORY)

Struktur Hirarki Ilmu Keperawatan Struktur hirarki ilmu keperawatan dibedakan atas 5 komponen dari ilmu keperawatan menurut tingkat abstraksinya. Hirarki terdiri dari komponen-komponen yang bersifat menyeluruh di dalam namun juga menjadi bagian dari yang lebih besar tersebut. Pada kasus ini   keseluruhan yang terbesar adalah Ilmu Keperawatan. Dengan demikian, setiap komponen dari ilmu keperawatan adalah keseluruhan yang utuh tetapi juga bagian dari yang terbesar. Berdasarkan figure 1 di atas 5 komponen hirarki dari ilmu keperawatan adalah metaparadigma, filosofi, model konseptual, teori, dan indikator empiris.  Seperti pada  figur 1  di  atas diperlihatkan komponen yang  paling  abstrak adalah metaparadigma dan  yang paling  konkrit adalah indikator empiris. Metaparadigma Metaparadigma didefinisikan sebagai konsep global yang mengidentifikasi fenomena dari minat sentral dari suatu disiplin, dalil global yang menggambarkan konsep, dan dalil global yang menyatakan hubungan an

makalah penyakit DHF (Dengue haemoragic fever)

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) atau DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus, dan family Flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti (infodatin, 2016). Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur. Munculnya penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat (Kemenkes RI, 2016). Menurut data WHO (2014) penyakit DBD pertama kali dilaporkan di Asia Tenggara pada tahun 1954 yaitu di Filipina, selanjutnya menyebar ke berbagai Negara. Sebelum tahun 1970, hanya 9 negara yang mengalami wabah DBD, namun sekarang DBD menjadi penyakit endemik pada lebih dari 100 negara, diantaranya adalah Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat memiliki angka tertinggi terjadinya kasus DBD. Jumlah kasus di Amerika, Asia Tenggara,dan Pasif

implementasi keperawatan, tahap-tahap implementasi keperawatan

BAB II PEMBAHASAN A.      PENGERTIAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan, adalah kategori dari prilaku keperawatan di mana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asukahan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. Dalam teori, implementasi dari rencana asuhan keperawatan mengikuti komponen perencanaan dari proses keperawatan. Namun demikian, dibanyak lingkungan keperawatan kesehatan, implementasi mungkin dimulai secara langsung setelah pengkajian. Sebagai contoh, implementasi segera diperlukan ketika perawat mengidentifikasi kebutuhan klien yang mendesak, dalam situasi seperti henti jantung, kemtian mendadak dari orang yang dicintai, atau kehilangan rumah akibat kebakaran. Implamentasi mencakup melakukan, membantu, atau mengarahkan kinerja aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan arahan perawatan untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien, menyelia dan mengevaluasi kerja anggota staf, da